IMAN YANG MELEBUR DI KEBERAGAMAN INDONESIA
Indonesia merupakan suatu mozaik raksasa yang tersusun atas potongan-potongan kecil keberagaman seperti suku, bahasa, adat istiadat, kepercayaan, dan agama, yang kemudian disatukan oleh benang merah dan benang putih toleransi. Di tengah perbedaan itu, menjadi seorang Katolik merupakan sebuah keistimewaan, karena selain menjadi seorang murid Kristus yang setia, juga harus menjadi warga negara yang mencintai tanah airnya. Beriman Katolik di Indonesia yang terdapat banyak perbedaan, bukan soal memisahkan diri karena tidak satu keyakinan, tetapi bagaimana seorang katolik harus bisa melebur dengan keberagaman itu tanpa menghilangkan jati dirinya.
Menurut saya, menjadi seorang Katolik itu adalah
suatu kebanggaan, karena di negara ini banyak terjadi penolakan, intoleransi,
perpecahan, dan berbagai masalah yang lainnya. Katolik masih menjunjung tinggi
nilai toleransi, baik bagi agama-agama lain, adat istiadat, bahkan Katolik
mempunyai ciri khas berkolaborasi dengan budaya yang ada di Indonesia. Bagi
seorang Katolik sesungguhnya adalah bagaimana ajaran Yesus Kristus tentang hukum
cinta kasih, sebagai murid Kristus yang mencerminkan pribadi-Nya, seorang
Katolik di tengah perbedaan harus menerapkan hukum cinta kasih, persaudaraan,
mengutamakan kemanusiaan di atas segalanya. Dalam hidup beragama di Indonesia,
yang menjadi perbedaan bagi setiap agama itu hanyalah: bagaimana cara memahami
hakikat sang pencipta, cara berdoa, tempat ibadah, kitab suci dan hari raya
suci, selain itu semuanya adalah sama, saya yakin semua agama di Indonesia
bahkan di dunia mengajarkan kebaikan, kejujuran, keadilan, kedamaian, dan semua
hal yang baik adanya.
Perbedaan-perbedaan yang ada, dilihat sebagai jalan
kesatuan, bukan sebagai pemisah. Sebagai seorang Katolik, saya mengakui bahwa
dalam agama lain juga terdapat cahaya kebenaran yang menerangi semua manusia,
tidak hanya bagi orang yang menganut agama itu. Meskipun setiap agama memiliki
perbedaan atas aturan, tetapi sebagai manusia yang hidup di dunia, sebagai
makhluk hidup, kita memiliki kesamaan martabat yaitu sebagai ciptaan Tuhan. Sebagai warga negara kesatuan republik Indonesia, yang berpedoman hidup
berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, sangat perlu ditanamkan sikap toleransi terhadap sesama. Menurut saya
yang menyebabkan perpecahan atau kerusuhan dalam hidup beragama adalah
ketidakpahaman, maka dari itu mencoba memahami tradisi, ajaran, dan hari raya
yang berbeda agama adalah salah satu cara yang dapat meningkatkan nilai
toleransi dan juga agar tidak muncul prasangka atau salah paham dalam
berkomunikasi lintas agama.
Hidup bermasyarakat sebagai seorang Katolik dan
sebagai warga negara Indonesia di tengah-tengah perbedaan, harusnya juga turut
aktif dalam kegiatan-kegiatan sosial, agar keakraban dan kehidupan sosial dengan
masyarakat yang berbeda agama terjalin erat. Sesuai dengan ungkapan Mgr.
Soegijapranata “100% Katolik dan 100% Indonesia”. Kita menjadi orang Katolik
yang penuh dan utuh, bukan hanya dalam keanggotaan tetapi juga dalam
keterlibatan dan pemberian diri kepada Sang Pencipta. Menghayati 100% Katolik
dan 100% Indonesia artinya menjadi Katolik yang mau terlibat dan aktif dalam
hidup menggereja, juga menjadi warga Indonesia yang terlibat dan aktif dalam
kegiatan berbangsa dan bernegara. Di dalam dunia yang Dewasa ini, kita harus bisa
berjalan beriringan, berjalan bersama, dan menjadi garam dan terang di dunia,
terutama di negeri ibu pertiwi ini. Menjadi murid Kristus di dunia bukan untuk
memaksakan injil dalam perbedaan, tetapi bagaimana menghidupi injil itu
sendiri di tengah-tengah perbedaan.
Penulis : Sandi Alguero (Topang)
Editor : Irenius Selsus Rengat

Komentar
Posting Komentar