Menemukan Sinar-Mu di Malam Tergelapku
Menelusuri jalan tanpa adanya cahaya yang menyinari membuatku kesulitan menemukan pintu keluar. Tidak ada sinar rembulan yang biasanya menuntun. Sungguh, malam ini amat dingin. Kerap kali aku terjatuh dan masuk ke dalam jurang yang dalam. Aku berusaha bangkit dan naik kembali untuk tetap ke jalan yang benar, walaupun kesulitan dan meraba-raba. Apakah jalan ini benar? Berulang kali aku terjatuh dan menjerit minta tolong. Siapakah yang dapat mendengar jeritanku? Air mata menjadi saksi bisu atas jeritan yang bergema dalam jurang yang dalam ini. Jurang ini sangat menakutkan; bayang-bayang tangan seolah mendekapku dan mengajakku untuk tinggal lebih lama. Jurang semakin gelap, mereka tersenyum karena aku tidak berhasil naik. Aku menangis. Dadaku berdentum cukup keras. Berulang-ulang kali aku menjerit minta tolong kepada siapa pun di atas sana, tetapi tidak ada yang mendengar jeritanku? ...







