MENJADI BATU KARANG DI TENGAH ISU PERANG

 



           Isu peperangan antar negara tentunya sudah tak asing lagi di telinga kita. Melalui berbagai media massa seperti televisi, koran, hingga internet.  Hal ini seringkali menjadi topik hangat dan memicu berbagai macam spekulasi. Tidak jarang, media menampilkan banyak sekali perkiraan yang hanya didasari oleh spekulasi serta opini pribadi, sehingga hal ini memicu perbedaan pendapat di dalam kelompok masyarakat. Fenomena ini kadang kala menjebak publik kedalam kondisi keberpihakan pada salah satu kelompok yang berkonflik, hingga menunjukkan berbagai aksi nyata sebagai bentuk dukungan mereka secara emosional.

            Di tengah situasi tersebut, terdapat langkah menarik yang dilakukan oleh Paus Leo XIV. Salah satunya, beliau menolak untuk bergabung ke dalam organisasi perdamaian dunia, yaitu Board of Peace (BoP) yang dibentuk oleh Amerika Serikat. Sebagai pemimpin negara Vatikan dan seluruh umat Katolik di dunia, keputusan beliau untuk tidak bergabung merupakan sikap yang sangat prinsipil. Jika kita lihat dengan lebih teliti, tindakan ini bertujuan mencegah keterlibatan agama untuk menjadi bagian dalam masalah politik praktis. Agama adalah aspek yang sangat sensitif jika dikaitkan dengan politik, ia sering kali disalahgunakan sebagai "topeng" pembenaran atas suatu tindakan kekerasan. Sejarah Perang Salib telah menunjukkan kepada kita bagaimana agama bisa menjadi puzzle pembentuk alasan bagi kelompok tertentu untuk berperang.

            Sebagai manusia yang berakal budi, kita harus mampu melihat latar belakang dan sejarah di balik setiap peristiwa. Konflik antar kelompok negara pada dasarnya sering kali berasal dari ambisi pribadi para pemimpin yang haus akan kekuasaan. Ambisi ini kemudian diperkuat oleh dukungan negara-negara mitra yang memiliki kepentingan serupa. Sayangnya, ketika pemimpin negara besar merasa tidak cukup dengan apa yang mereka miliki, rakyatlah yang menanggung akibatnya. Ketidakpuasan ini membawa mereka pada keinginan untuk menguasai wilayah lain dengan cara yang tidak manusiawi. Masyarakat yang tunduk pada superioritas pemimpinnya sering kali tidak bisa berbuat banyak, padahal setiap warga negara berhak memperoleh kenyamanan dan keamanan di negara mereka tinggal. Namun Kenyataan pahitnya, nilai-nilai kemanusiaan seringkali dikorbankan untuk kepentingan politik dan ekonomi.

            Oleh karena itu, kita harus mampu membuka pikiran. Kita perlu menyadari bahwa kepemimpinan seorang tokoh yang berkarisma sebenarnya berasal dari masyarakat yang dipimpinnya. Langkah yang bisa kita ambil tidak harus berupa reformasi besar atau gerakan separatis, melainkan melalui tindakan sederhana, seperti menjadi pribadi yang terus berpikir. Kita harus membentengi diri dari isu-isu provokatif yang dapat memicu perpecahan.

            Sebagai orang yang beriman, Alkitab dan ajaran Gereja harus tetap menjadi dasar hukum moral, iman, serta pedoman hidup bagi kita. Kita harus menyikapi situasi global secara logis dan tidak mudah termakan berita bohong (hoax). Tidak perlu melakukan tindakan emosional yang berlebihan, seperti meratapi tokoh yang tidak dikenal secara mendalam atau melakukan demonstrasi pembelaan terhadap pihak luar di negeri sendiri. Kita harus berdiri teguh seperti batu karang di tengah ombak yang kokoh menghadapi hantaman provokasi. Memiliki empati terhadap korban perang adalah hal yang mulia, namun menggunakan akal budi dan iman yang jernih dalam bertindak tetaplah yang utama.


Penulis: Ridho Elevander Praja (POESIS)

 

Komentar

Terpopuler